PENGASUHAN TODDLER
(Carolyn Pope Edwards and Wen-Li Liu, Universitas Nebraska-Lincoln)
Periode umur antara infancy sampai early childhood (periode 18 bulan atau 2 tahun antara umur 12 dan 36 bulan) sering disebut toddlerhood.Toddlerhood tidak bisa dianggap satu tahap sendiri, maka setidaknya ini adalah fase transisi atau sub-tahap dari tahap perkembangan. Masih terdapat ketidakpastian apakah toddlerhood adalah satu tahap dari childhood.
Banyak teks pendidikan childhood di perkembangan awal dan di perkembangan lanjut (khususnya teks yang jarang dipengaruhi oleh perspektif psikoanalitik) tidak menyisakan satu bagian pun untuk mengulas toddler (Gardner, 1978). Beberapa teks terbaru masih mengikuti pola lama, dan membagi materi childhood-nya menjadi tiga periode, yaitu infancy, early childhood, dan middle childhood (Craig dan Kermis, 1995; Feldman, 2001; Santrock, 2000). Sebaliknya, meski begitu, teks baru lainnya mengikuti Stone dan Church (1973), dan menjelaskan periode infancy dan toddler secara terpisah (Dehart, Sroufe, dan Cooper, 2000; Newcombe, 1996). Lainnya menggabungkan, tapi tetap membaginya dalam dua subtahap, yaitu lewat judul “Infancy and Toddlerhood” (Berk, 1999; Papalia, Olds, dan Feldman, 1999). Ketika infant dan toddlerhood diperlakukan secara gabungan, umur batasan yang menandai transisi ke early childhood sering ditempatkan di tahun ketiga (24 bulan). Tapi ketika toddlerhood digunakan sebagai periode terpisah, umur batasannya bergerak ke arah tengah atau akhir dari tahun ketiga (30 atau 36 bulan).
Berikut beberapa perspektif teori klasik dan baru tentang perkembangan periode toddler:
PERSPEKTIF TEORITIK DARI PERKEMBANGAN TODDLER
Perspektif ilmiah menggunakan perspektif parental commonsense ini, dan bergerak ke luar dari ini dengan menghipotesiskan adanya perubahan struktural yang menjadi dasar dari pertumbuhan dan perkembangan anak. Dukungan, panduan dan struktur parental bisa membantau anak melewati periode toddler. Anak bisa merasakan beberapa tugas perkembangan yang nantinya menjadi agenda perkembangan anak dan menguras energi emosi dan interaksi anak. Masyarakat budaya bisa berbeda dalam tatanan dan timing tugas
perkembangan dan juga dalam signifikansi yang diberikan pada setiap tugas saat mendeskripsikan maturitas anak, tapi tugas tersebut bisa dianggap universal. Meski pakar teori berbeda bisa menilai tugas ini dalam cara sedikit berbeda, tugas berikut, atau tema perkembangan berikut, diberi nama berdasarkan literatur yang ada:
1. Otonomi dan independensi, atau kemunculan kapasitas agar berfungsi sendiri (secarafisik dan psikologis) lepas dari orang tua, dan mulai menguasai skill hidup harian sederhana, seperti makan dan berpakaian, kencing dan kesehatan personal, tidur jauh dari ibu, dan bermain tanpa diawasi orang dewasa.
2. Self-concept kategori dan self-reflection awal, atau kapasitas self-recognition, kesadaran self sebagai sumber aksi, ide, kata dan perasaan, dan menciptakan self-evaluation reflektif.
3. Kontrol impuls, atau regulasi emosi, atau kemunculan kapasitas yang berhubungan dengan regulasi afektif dan perilaku dan kepatuhan ke harapan orang tua, termasuk kemampuan menunggu, self-comfort, menolak godaan, menunda gratifikasi, dan mengikuti aturan dan arahan bahkan ketika tidak diawasi secara cepat.
4. Empati, moralitas, dan standar, atau kemunculan kemampuan yang berhubungan dengan sikap prososial dan mempertimbangkan perspektif dan kebutuhan orang lain, mempelajari aturan dan standar, dan merasakan cemas atau stress ketika standar dilanggar.
5. Identitas gender dan identifikasi peran-gender, atau kemunculan kapasitas dalam melabeli dan mengidentifikasi gender dari self dan orang lain, mengetahui beberapa perilaku dan atribut dari pria dan wanita di berbagai umur, memahami stabilitas gender di wacana hidup, dan meniru dan berafiliasi dengan orang lain dari gender tertentu.
6. Menjadi terkoneksi dengan orang lain dan menjadi anggota masyarakat, atau menciptakan hubungan erat dan berada di tempat lain sebagai anggota dari keluarga besar atau kelompok persaudaraan, termasuk berfungsi di dalam saudara atau rekan, dan belajar melakukan interaksi sosial yang tepat diberbagai domain, seperti mengajar dan belajar, dominansi dan tanggungjawab, pengasuhan dan dependensi, permainan dan kemampuan bersosial.
Teori Psikoanalitik Dan Neopsikoanalitik
Penjelasan psikoanalitik klasik tentang periode childhood tepat sesudah bayi sering difokuskan pada kontrol agresi dan fungsi badan. Sigmund Freud menggambarkan young children sebagai makhluk tegas dan berkemauan yang berusaha mencari independensi dan gratifikasi seksual, yang nantinya membawa dirinya ke konflik dengan sosialnya, yaitu terhadap orang tua yang mengendalikannya. Dalam edisi pertama dari Three Essays on the Theory of Sexuality, Freud (1901-1905; dikoleksi 1953) mendefinisikan latensi sebagai semua umur childhood naik sampai pubertas, dan mengklaim bahwa ada dua interupsi latensi sebelum pubertas, yaitu oralitas infantil dan genitalitas pra-sekolah (Mueller dan Cohen, 1986). Dalam tulisan selanjutnya, meski begitu, Freud (1920, 1949) mengatakan bahwa impuls seksual bisa naik di semua tahun awal, yang diekspresikan dalam tiga gelombang overlap, seperti fase oral di tahun pertama; fase sadistik-anal yang memuncak di tahun kedua atau ketiga, yang mana kepuasan dicari dalam agresi dan ekskresi; dan fase phallik di tahun keempat dan kelima. Freud (1920) mendiskusikan bagaimana, selama fase sadistik-anal, dunia luar dilihat pertama kali oleh anak sebagai kekuatan buruk yang mengurangi hasrat kesenangannya. Pertarungan dengan orang tua dalam waktu dan cara mengekspresikan agresi dan memberikan ekskresi adalah panduan pertama anak ke konflik internal dan eksternal (Freud, 1920). Karena itu, warisan penting dari teori Freud adalah sentralitas isu konflik dalam pemahaman kita tentang pengalaman toddler. Erikson (1950), setuju dengan pendapat Freud bahwa perubahan hasrat agresif dan seksual bisa membentuk inti kepribadian, tapi dia menyatakan tahap psikoseksual sebagai psikososial dan melihat zona badan sebagai modalitas bagi hubungan orang tua-anak di konteks budaya.
Erikson menemukan isu konflik ketika mengatakan bahwa ajaran menahan dan membuang isi perut bisa menghasilkan potensi ke modalitas anak dalam menciptakan tensi internal dan eksternal. Dalam mengemukakan delapan tahap psikososial dari manusia, dia memahami ini lewat metafora otonomi versus malu dan ragu , dan menganggap ini sebagai isu dasar dari tahun kedua dan tahun ketiga. Orang tua, menurut Erikson, mendukung anak mereka melewati krisis ini dengan membiarkan toddlernya memilih cara yang tidak merugikan dirinya atau orang lain, dengan membantu mereka bermain dan menilai dirinya secara aman dan independen, dan mereward dan merayakan pencapaiannya
Periode toddler berisi tiga tahap yaitu practising (dorongan ke keterpisahan yang didasarkan pada temuan cara jalan), rapprochement (sebuah keterlibatan dengan ibu), dan individuasi (keterpisahan dari ibu yang diikuti dengan power personal dan dependensi).
Teori Kognitif
Teori kognitif-struktural dari Piaget (1952) tentang pertumbuhan intelejensi selama childhood memberikan pengaruh besar kedua yang membentuk pemahaman tugas perkembangan toddlerhood. Menurut teori ini, tahap sensorimotor dari bayi bisa berkembang di umur 18 sampai 24 bulan, dengan pencapaian pikiran representasi, atau simbolisasi, yang menjadi sebuah kejadian di tahapan pra-operasi panjang yang tidak berhenti sampai ada pencapaian intelejensi operasional konkrit. Contoh, anak lebih dari 18 bulan yakin bahwa orang lain dan sesuatu adalah permanen dan menghitung perubahan obyek yang hilang. Perilaku ini memunculkan kemungkinan permainan orang tua-bayi, dan dengan cepat menjadi fokus permainan tiruan, sembunyi, dan pura-pura, yang menjadi bagian dari “nursery game” yang telah dilakukan sejak dulu.
Periode toddler menurut teori Piaget bukan dikatakan sebagai fase terpisah. Tapi, toddler lebih muda (di bawah 18 bulan) diharap menjadi bayi sensorimotor, dan toddler yang lebih tua (18 sampai 36 bulan) diharap bisa menjadi anak pra-sekolah simbolik. Revolusi kognitivist, yang terjadi di United States, sepertinya memunculkan kesan urgen bahwa orang tua harus membantu dan mendukung perkembangan kompetensi representasi older toddler – baik bahasa dan permainan simbolik. Orang tua harus memberikan lingkungan kaya kognitif dan stimulan (yang meminta anak bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri; Duckworth, 1972);
Kognitivist kontemporer (Case, 1992, 1998; Fischer, 1980; Fischer dan Bidell, 1998) sepakat dengan deskripsi Piaget (1952) tentang perkembangan awal anak, dan juga mendukung hipotesis bahwa orang tua membantu anak untuk membangun kompetensi konseptual dan representasionalnya. Orang tua dan anak dianggap sebagai partner aktif dalam proses mempelajari dan mengakuisis pengetahuan anak, lewat eksplorasi sensorik dan motorik.
Teori Kelekatan (Attachment Theory)
Teori attachment, pertama kali diusulkan oleh (Bowlby, 1969), terbukti koreksi berguna untuk melihat Behavioristik yang berlaku bahwa orientasi anak terhadap caregives didasarkan pada "motif ketergantungan" dikondisikan melalui kepuasan kebutuhan anak primer dan sekunder (Gewirtz, 1972).
Teori attachment menjelaskan tentang bagaimana cara orang tua mendidik dan mengawasi anak dalam kehidupan sehari-harinya. Sesuai dengan perkembangan anak, teori ini juga memaparkan tahapan perkembangan progresif masuk anak ke pelebaran jaringan sosial.
Mereka mungkin menikmati berinteraksi dengan orang lain ialah point dari attachment, tetapi mereka tidak memerlukan teman bermain tersebut untuk pembangunan yang optimal. Selama masa balita, sebaliknya ketika anak-anak telah menyelesaikan pekerjaan pembangunan yang terlibat dalam membangun resiprositas dewasa ibu-bayi dan kemitraan (Sander, 1962) atas dasar irama bersama, intentios, dan memori (Kaye, 1982), mereka sekarang mulai untuk menampilkan selera untuk menjalin hubungan yang kuat dan tahan lama attchments dan persahabatan dengan orang lain, juga.
Ibu dan anggota keluarga lainnya memainkan peran kunci dalam mediasi balita masuk 'ke dalam hubungan sosial yang lebih luas dan mempengaruhi respon afektif, gaya komunikatif, dan repertories sosial yang anak mereka bawa untuk membentuk hubungan yang berarti dan berkelanjutan dan asosiasi (Barnard dan Solchany, di Vol .3 Buku Pegangan ini; Ladd, Profilet, dan Hat, 1992).
Identitas Gender dan Iidentifikasi Peran Gender
Pada tahun ke 2 dan tahun ke 3 anak – anak akan mengalami sesuatu yang penting :
Y Pembentukan identitas gender : pengetahuan bahwa 1 dan semua akan menjadi laki – laki atau wanita.
Y Identifikasi acuan gendernya : konsistensi dari acuan gendernya dan pilihan.
Pada tahun ini orang tua biasanya berpikir anaknya akan menjadi maskulin ataukah feminin, bahasa bayi akan mengembangkan kecepatan dalam segala hal, orang tua mengoreksi apa yang dipakai anaknya terkait gender.
Sebenarnya pada usia toodler ini anak sudah memiliki skema gender pada dirinya tetapi masih kurang terstruktur dan masih terbatas pengetahuan akan konsep laki-laki dan perempuan itu seperti apa. Maka dari itu untuk anak laki-laki yang berusia 3 tahun dan untuk anak berusia 2 tahun mulai bermain dengan teman sesama gendernya dan hal ini dipengaruhi oleh proses kognitif daripada sosial.
Area konten perkembangan toddler yang paling banyak dipelajari ilmuwan adalah kepatuhan/ketidakpatuhan, perkembangan moral, identitas gender, perkembangan bahasa, dan perkembangan kognitif. Yang menonjol dari ini adalah detail deskriptif dari perkembangan ,yaitu perkembangan toddler secara tipikal dan non-tipikal.
Semua saran pakar pada orang tua adalah jenis lain dari sintesis yang dipelajari di beberapa dekade lampau yang berteori dan meneliti perkembangan toddler. Selain itu, literatur advisory juga memadukan apa yang diyakini profesional sebagai cara asuh terbaik dari orang tua dan apa yang menjadi masalah pengasuhan anak, sekaligus memberikan titik tolak untuk kehidupan kontemporer dan bermasyarakat.
ini namanya menulis ulang, jeng..hehe...
BalasHapus